Tanah Papua adalah wilayah yang dikenal damai dengan toleransi beragama yang tinggi. Kegaduhan di tanah Papua terhadap toleransi antar ummat beragama selayaknya tidak perlu terjadi.
Kalau kita pelajari sejarah perkembangan toleransi di tanah Papua, sangatlah indah dan damai.
 
Sejarah Islam masuk Papua justru ditemukan jauh sebelum bangsa penjajah Belanda dan Portugis datang ke Nusantara bersama misi agamanya. Fakta bisa kita dapati suku Papua telah jadikan AlQuran sebagai lambang atau pegangan hidup turun temurun dan ajaran Islam yang dijalankan.
Berikut ini jejak rekam peristiwa yang ada di tanah Papua. Meski mereka tak bisa baca AlQurannya tapi mereka tetap jaga AlQuran.


Suku Papua diketahui mempunyai pusaka turun temurun yang tak pernah mereka baca karena tak ada yang tahu cara membacanya dan saat ada rencana pembangunan Mushalla Kepala suku menunjukkan barang keramat mereka yang ternyata adalah AlQuran.
Kembali kita pelajari sejarah, menurut Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba.
Islam masuk ke tanah Papua sejak 17 Juli 1224 M disebarkan Syaikh Iskandar Syah atas mandat Syaikh Abdur Rauf dari kerajaan Pasai, Aceh dan ada AlQuran peninggalan Raja I Patipi yg didakwahi pertama oleh Syaikh Iskandarsyah
Muncul pertanyaan dewasa ini, mengapa Islam kurang berkembang di tanah Papua?
Raja Patipi XVI ini menjelaskan, Raja Patipi I, memeluk Islam dan mengangkat Syaih Iskandarsyah jadi Imam di Kerajaan Papua.
Lalu beberapa tahun kemudian terjadi Tsunami yang melenyapkan bangunan dan rakyat.
Namun, Syaih Iskandarsyah berhasil selamatkan AlQuran dan beberapa kitab Islam yang sekarang diwariskan kpd Raja Patipi XVI.
Peninggalan AlQuran ini dijaga turun temurun di Papua. Islam di Papua dan juga Islam di Indonesia lahir dg wajah yg Indah dan penuh toleransi.
Raja Waigeo, Raja Ampat baru pertamakali dikunjungi Portugis pada tahun 1581.
Raja Waigeo telah memeluk Islam dan merupakan Raja muslim yang ta’at. [ The Report of Miguel Roxo de Brito in His Voyage in 1581-1582 To the Raja Ampat, the MacClur Gulf and Seram, JHF Sollewijn Gelpke, BKI Vol 150 No: 1 Leiden, 1994]
Inilah fakta sejarah yang harus kita fahami dan sadari, bahwa sebelum portugis masuk ke nusantara (sebelum masuknya ajaran misionaris Kristen ke tanah Papua) tahun 1500-an
Wilayah Papua dan rajanya telah memeluk Islam. Kerajaan Islam Papua.
Kesultanan Tidore, Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melakukan ekspedisi ke Papua menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat, bersilaturahmi dengan Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I.
Sultan Papua I diangkat (Anak Sultan Bacan) bernama Kaicil Patra War,  digelari Komalo Gurabesi dan dinikahkan dg putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah (Anak Sultan Tidore)
Kesultanan Tidore dan Bacan memperluas pengaruhnya hingga ke Raja Ampat bahkan hingga Biak
Para pemimpin Papua yang merupakan para pemimpin-pemimpin Islam yang ta’at lalu mendirikan kerajaan-kerajaan Islam (Petuanan) otonom di bawah Kesultanan Tidore seperti Raja Ampat (Kolano Fat) terdiiri dari
▪Kerajaan Waigeo (Weweyai)
▪ Kerajaan Salawati (Sailolof)
▪ Kerajaan Misool (Lilinta)
▪ Kerajaan Batanta
Kemudian di ilayah Fakfak & Kaimana kerajaan-kerajaan Islam (Petuanan) ada sembilan yaitu :
▪ Petuanan Namatota
▪ Komisi
▪Fatagar
▪Ati-ati
▪Rumbati
▪Pattipi
▪Sekar
▪Wertuar
▪Arguni
Pengaruh Tidore terlihat saat pelantikan Raja Wertuar VII oleh Sultan Tidore, M Tahir Alting 1886.
Sedangkan di Kampung Ugar, Fakfak, terdapat dokumen  silsilah Raja-Raja Ugar beraksara Arab, yang tertulis tahun 1929 M
Islam bukan baru saja muncul di tanah Papua era kemerdekaan, melainkan jauh sebelum pengaruh para bangsa penjajah masuk ke tanah air Indonesia. Maka, janganlah lupakan sejarah.
Jangan kobarkan dengki, kegaduhan dan bencimu kepada saudara Muslim Papua yang selama ini mempunyai sikap toleransi tinggi terhadap keberagaman bhineka tunggal Ika.
Bahkan Penerapan HUKUM ISLAM  seperti Pulau Misool, msh dijalankan hingga akhir masa Belanda.
Ada Hakim Syara’ bertugas mengurusi perihal perkawinan, kematian & sholat berjamaa’ah
Ditemukan kitab Barzanji 1622 M dlm bhs Jawa Kuno & teks khutbah Jum’at  1319 M.
Bukti fisik yang masih secara megah berdiri adalah beberapa Masjid yang dibangun 1587 M yaitu  Masjid Tunasgain  dan di Patimburak, yang diperkirakan sejak abad ke19 (menurut Raja Patipi XVI, 1870 M)
Pada akhirnya Belanda mampu menaklukan Kerajaan Tidore dan Ternate.
Namun perlawanan Muslim Papua terhadap para Penjajah keji itu tak padam. Pangeran Nuku kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap VOC yang bersekutu dengan Sultan Tidore serta Ternate yg menggerogoti kekuasaan Belanda di Maluku dan didukung oleh Papua!
Dukungan rakyat Papua di Raja Ampat, membuatnya bergelar Sultan Papua II. Meneruskan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) yang bergelar Sultan Papua I.
Setelah Sultan Papua II Wafat. Belanda, bangsa penjajah keji dan tamak masuk langsung ke Papua dengan mendirikan benteng pertama De Bus dan mulai membangun Gereja, yang menandai mulai pudarnya ajaran Islam di tanah Papya.
Kristenisasi Papua baru dimulai sejak tanggal 5 Februari 1855 oleh C.W. Ottow & J.G. Geissler di Mansinam, Manokwari
Penginjil ini dijuliki ‘Rasul Papua’, tanggal kehadirannya diperingati setiap  5 Februari oleh Gereja Kristen Injili di Papua.
Sementara, khatolik justru baru berkembang dengan misionarisnya mulai Agustus 1905 dengan kehadiran Pastor H. Nollen, Pastor P. Braun dan Bruder Roessel di Merauke.
Para penginjil berkolaborasi dengan Belanda untuk mempribumikan Kristen dan khatolik di tanah papua, untuk memperlancar penjajahan keji terhadap bumi tercinta tanah air Indonesia.
Islam di Tanah Papua
Islam di Tanah Papua
Walaupun berseberangan dengan faham ajaran para penjajah, tanpa dukungan Belanda, Muslim Papua bergerak sendiri
Tahun 1910, Haji Abdul Majid mendirikan pendidikan Islam dan masjid pertama di Jayapura. Ia pulalah jadi imam masjidny
Di Merauke, tahun 1908, seiring dibukanya perkebunan kapas. Anak-anak pekerja belajar Islam dari guru ngaji.
Sebelum Indonesia Merdeka, Muslim Papua sudah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada Tahun 1930, Tengku Bujang, seorang yang berstatus diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda (Digulis), tiba di Merauke dan memulai dakwahnya dengan membangun Masjid Sepadin.
Dia memulai khotbah Jumat dengan bahasa Indonesia. Yang merupakan para pejuang kemerdekaan Indonesia dari tirani bangsa Penjajah yang semena-mena merampok kekayaan Indonesia tercinta.
Tengku Bujang inilah yg mendirikan Muhammadiyah pertama di Papua.
Pada tahun 1933-1936, Muhammadiyah mengirimkan tiga orang mubaligh ke Papua, yaitu Ustadz Jais, Ustadz Asarar dan Ustadz M, Chatib
Muhammadiyah juga hadir di Fakfak 1933 Raja Rumbati, Haji Ibrahim Bauw dengan Daeng Umar. Namun hal ini tak berlangsung lama, Haji Ibrahim ditangkap dan Daeng Umar diasingkan.
[18/3 15.06].
Muslim memang tak diberi ruang berkembang oleh Belanda hingga akhir 1950-an
Sekolah anak-anak Pribumi  Muslim Openbare Vervolg School (O.V.V.S) didirikan menjelang pengalihan kekuasaan Belanda pada Indonesia ditahun 1960an
Islam telah hadir di Papua dengan damai sejak 1224 abad XIII dan baru pada abad XIX  Kristen dan Khatolik masuk menyebar melalui misi Penjajahan Belanda.
Semoga artikel pelajaran sejarah Islam di Papua ini bisa membawa kedamaian kembali, kerukunan ummat beragama di tanah Papua.
Tanah Papua dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Tagged on:         

Leave a Reply